Asal Usul Sang Pemuda
Pemuda ini bernama Timoteo Rhousdy. Tak pernah ia tahu kapan sesungguhnya ia lahir, kapan sebenarnya namanya hadir, dan kapan pula ia akan tahu siapa sejatinya orang tua kandungnya. Berkat kemuliaan hati sepasang suami-istri Teguh Fransiskus Rhousdy dan Anneke Lim, Timo—begitu panggilannya—diangkat menjadi anak bungsu dari empat bersaudara, yang ketiga-tiganya adalah perempuan. Timo kecil diterbangkan ke Indonesia untuk tinggal dengan nenek dan kakak perempuannya, hingga sang ayah dan ibu bersama kakak-kakaknya yang lain resmi pulang. Pada titik itu, detik itu, Timo merasakan hangatnya keluarga.
Ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang santun dan lembut pada perempuan, berkat didikan keras kakak-kakaknya, yang kemudian menghantarkannya menjadi pribadi yang senantiasa tersenyum. Timo senang berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, membuatnya lupa akan kenangan pahit yang samar dan enggan diingatnya. Inilah yang membuat pemuda ini sering lupa akan dirinya sendiri dan kerap memerhatikan sekitarnya. Salah satu alasan di balik kegemarannya bercocok tanam, memotret pepohonan dengan kamera digital, dan mengerjakan berbagai pekerjaan serabutan adalah rasa syukur yang mendalam memiliki kesempatan hidup dari kedua orang tua yang tak pernah lelah bergerak.
Ia paling sering ditemukan tengah merapikan deretan roti di toko roti milik ibunya, yang terletak di pinggir jalan raya. Kadang kala, ia juga bisa ditemukan tengah mengerjakan kegiatan sukarela, bernyanyi di sebuah klub, atau menjadi peraga bayaran demi portfolio seseorang. Pada waktu tertentu, ia mungkin ada di dalam mobil, melaju secepat kilat di sirkuit sewaan langganan ayahnya.
Timo, sang pemuda yang selalu menarik rasa penasaran orang lain itu, sangat ingin menikmati hidup sepenuh-penuhnya meski bayangan-bayangan sendu masih kerap mendekatinya.